Mau UANG???... Buruan GRATIS Registrasi KLIK DISINI

Rabu, 08 Juni 2011

Perempuan Ojek Lapindo


Perempuan bersayap besi. Tegar berdiri.

Herawati bertudung topi lebar. Berjaket tebal dengan kacu bendera Amerika Serikat melingkari leher. Siang itu panas menikam ubun-ubun di Porong, Sidoarjo.

Herawati tidak canggung berada di antara puluhan lelaki pengojek yang mangkal di tanggul lumpur Lapindo. Jauh di tengah danau lumpur, rumahnya dulu di Desa Siring tak tampak lagi.

”Ojek pilihan terakhir saya. Meski harus berjuang melawan sengatan matahari, tetap akan saya lakukan untuk menghidupi keluarga,” kata Herawati.

Herawati mengojek sejak tahun 2007. Saban hari dari pukul 7 pagi hingga malam, dia mengitari tanggul dari Siring, Kedung Bendo, Renokenongo, Mindi, hingga Jatirejo, mengantar turis wisata lumpur.

Sebelum suaminya Muhtah meninggal, dan Desa Siring belum tenggelam, Herawati punya warung. Keuntungannya jualan lumayan untuk menghidupi keluarga.

Sekarang kebutuhannya semakin banyak. Anak pertamanya yang berusia 12 tahun, Ria Maharani, duduk di kelas VI SD Candipari, Porong. Tahun depan masuk SMP. Anak keduanya, Katrina Maharani, 4,5 tahun.

Pendapatannya setiap hari tidak tentu. Jika banyak pengunjung, Herawati dapat mengantongi uang Rp 50 ribu. Tapi dia juga pernah tidak mendapat penumpang sama sekali.

“Untuk besaran tarif, kami menentukan batasan tarif minimal. Atau tergantung nego dengan penumpang,” ujar Herawati.

Selain mengojek, Herawati juga menjual VCD berisi rekaman meluapnya lumpur Lapindo 5 tahun lalu. VCD tersebut dijual dengan kisaran harga Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu. Pendapatan dari menjual VCD digunakan untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Di tanggul Lapindo ada 3 perempuan pengojek. Selain Herawati ada Muamalah dan Muslikah. Mereka bergabung dalam Paguyuban Ojek Tanggul Lumpur Lapindo.

Ketika pertama berdiri, Paguyuban Ojek memiliki 300 orang anggota. Kebanyakan mereka, mantan buruh yang pabriknya ditenggelamkan lumpur PT Lapindo Brantas. Pengojek mangkal tersebar di 8 titik tanggul.

Sekarang hanya 100 pengojek yang tersisa. Kebanyakan berhenti setelah mendapat ganti rugi dan mampu membeli rumah. ”Teman-teman banyak yang keluar jadi tukang ojek.”

Apalagi jumlah pengunjung sekarang jauh berkurang. Jumlah pengunjung meningkat hanya pada masa liburan sekolah. Itupun belum pasti mereka menggunakan jasa ojek untuk berkeliling melihat hamparan lumpur.

Paguyuban Ojek Tanggul Lumpur Lapindo mengutip iuran seribu rupiah dari setiap anggota tiap hari. Uang itu disimpan dan akan digunakan untuk menyumbang jika ada anggota yang sakit atau meninggal.

Menurut Herawati anaknya mengaku kerap malu pada teman dan tetangga karena memiliki ibu berprofesi pengojek. Butuh waktu memberi pengertian soal pilihan profesi yang terpaksa diambilnya.

Namun tantangan paling berat ketika harus menghadapi penumpang laki-laki yang usil. Herawati sering dirayu penumpang yang mengajaknya kencan. Biasanya, sikap menolak dengan cara halus namun tegas, efektif untuk mengatasi penumpang jahil.

Meski Herawati sudah mendapat rumah baru di Desa Candipari, kondisinya tidak senyaman kampung halamannya di Siring. Herawati sudah akrab dengan warga Siring. Mencari uang di Siring juga lebih gampang.

“Setiap malam, sesempit apapun saya selalu berusaha untuk bercengkerama dengan anak-anak. Karena itu saya memilih tidak menghadiri kegiatan kampung,” ujar Herawati.

Herawati berharap, PT Minarak Lapindo Jaya segera menyelesaikan pembayaran ganti rugi. Dia baru menerima ganti rugi Rp 80 juta dari Rp 150 juta yang seharusnya diterima. Pembayaran cicilan ganti rugi juga macet selama 3 bulan terakhir.

Herawati berniat berhenti mengojek setelah ganti rugi lunas. Dia ingin kembali merintis usaha kecil-kecilan. “Anak saya harus menjadi orang sukses. Sebisa mungkin mereka terus sekolah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar