Mau UANG???... Buruan GRATIS Registrasi KLIK DISINI

Selasa, 22 Februari 2011

Mereka Menatap Dunia


Sekolah tuna netra. Menghapus gelap.

Empat siswa kelas IV tekun menyimak penjelasan Pak Salim. Tangan mereka cekatan membuat tanda diatas reglet. Huruf-huruf braile timbul mengungkap kata.

Salim, guru Bahasa Indonesia di SDLB Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB). Dengan pengalaman mengajar sejak tahun 1981, Salim guru paling senior di sekolah ini. Bapak berusia 54 tahun ini lulusan SDLB Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta tahun 1970.

Salim kecil tidak pernah bercita-cita menjadi murid apalagi guru sekolah luar biasa. Salim tidak terlahir sebagai penyandang tuna netra.

Salim sempat sekolah di SD Negeri Tembaan II, Surabaya, hingga kelas II. Pada umur 11 tahun Salim sakit panas disertai kejang-kejang. Berobat ke beberapa dokter, sakitnya tak kunjung sembuh.

Penglihatan Salim terganggu akibat penyakit ini. ”Mata saya rasanya panas sekali, sampai akhirnya saya benar-benar tidak bisa melihat,” katanya.

Salim kemudian pindah ke SDLB Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta. Setelah lulus, dia melanjutkan sekolah ke sekolah menengah pertama luar biasa dan lulus tahun 1972.

Minat Salim mengajar mulai terarah ketika dia melanjutkan pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Teratai. Lulus tahun 1981, Salim diterima mengajar di TK Luar Biasa YPAB hingga tahun 1995. Selepas itu dia diberi kepercayaan mengajar Bahasa Indonesia untuk kelas 4, 5, dan 6.

Baru dua tahun mengajar di SDLB YPAB, Salim diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Mematangkan kemampuannya mengajar, Salim melanjutkan studi ke Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Surabaya. Dia lulus sarjana tahun 2008.

Di bidang tulis menulis, Salim lumayan bertaji. Tahun 1983 dia menyabet gelar juara I nasional lomba mengarang untuk guru dan kepala sekolah luar biasa. Tahun 2004 Salim merebut juara III lomba mengarang tingkat internasional di Jepang.

”Tidak ada yang tak mungkin di dunia. Asal kita mau berusaha dan kerja keras,” ujarnya.

Selain membuka jalan karir, SDLB Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta juga mempertemukan Salim dengan pendamping hidup. Salim menikah dengan sesama guru di SDLB YPAB tahun 1993. Istrinya kini mengajar di SDN Margorejo III, Surabaya.

Bersama istri dan 2 anaknya, Salim tinggal di kawasan Ketintang Madya. ”Meski mengalami keterbatasan, senang rasanya bisa memiliki keluarga yang mencintai saya.”

Tidak hanya guru yang berprestasi di SDLB Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta, puluhan penghargaan lainnya disumbangkan murid sekolah ini.

Huriyah Dawi Febriyanti misalnya, meraih juara I lomba menyanyi siswa SLB se-Provinsi Jawa Timur. Siswa kelas 4 SD ini, mampu mengalahkan puluhan pesaing dari berbagai kabupaten dan kota.

”Untuk bisa juara, saya harus rajin dan rutin ikut les musik. Kebetulan saya suka musik jadi mudah mengikutinya,” kata Febriyanti.

Menurut Febriyanti, keberhasilannya meraih juara tidak lepas dari bimbingan Iwan, guru musik di SDLB YPAB. Iwan yang juga alumni sekolah ini mengajari Febriyanti membaca not balok dan olah vocal.

Kepala Sekolah SDLB YPAB, Nurul Gimawati mengatakan, setidaknya ada 20 hingga 30 penghargaan yang diraih murid-muridnya. Sebagian besar pada bidang seni dan olahraga. ”Penghargaan yang diraih sekolah ini merata. Mulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat internasional.”

Menurut Nurul, tidak mudah membimbing siswa SLB agar mandiri dan mampu meraih prestasi. ”Untuk menangani siswa yang dikucilkan oleh keluarga merupakan tugas yang berat. Butuh kesabaran,” katanya.

Sejak didirikan oleh Prof Dr M Soetopo dan istrinya G Soetopo van Eybergen, 9 Maret 1959, sekolah ini konsisten tidak menarik biaya pendidikan. Mayoritas siswa SDLB Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta, berasal dari keuarga tidak mampu.

Untuk menambal biaya operasional, sekolah bekerja sama dengan lembaga atau perorangan yang berminat menjadi orang tua asuh. Satu anak, satu orang tua angkat.

Sekolah tetap tidak menarik biaya pendidikan bagi siswa yang mampu, meski ada orang tua mereka yang menjadi donatur.

SDLB YPAB juga mendapat kucuran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Meski jumlahnya tidak sebanyak bantuan yang diterima sekolah umum, dana tersebut dapat membantu kelancaran operasional sekolah.

Selain bebas SPP, sekolah ini memberikan fasilitas asrama bagi siswa yang berasal dari luar Kota Surabaya. Mereka juga mendapat fasilitas antar jemput siswa. (red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar