Mau UANG???... Buruan GRATIS Registrasi KLIK DISINI

Selasa, 12 Mei 2009

Demi Kali yang Menghidupi


Korban penggusuran bertahan di reruntuhan rumah mereka. Tanpa ganti rugi, tak ada kata pindah.

MENJELANG subuh Senin Pahing 4 Mei lalu, warga tepi Kali Jagir dikagetkan dentuman dari sebuah rumah sekitar 15 meter dari rel kereta di Jalan Jagir Wonokromo, Surabaya. Dentuman itu ternyata suara buldozer yang sedang meruntuhkan rumah-rumah penduduk. Dentuman itu adalah awal dari bencana para penghuni bantaran kali. Sekejap kemudian rumah-rumah yang sudah berdiri di situ selama seperempat abad luluh lantak.

Jerit tangis para ibu dan anak-anak membuat subuh itu makin pikuk. Mereka tak bisa berbuat apa pun, kecuali meratapi tempat bernaung mereka luluh. Mereka juga tak tahu harus berbuat apalagi, setelah rumah rata dengan tanah. Memang warga sempat memberikan perlawanan, namun tidak berarti. Demikian banyak aparat diterjunkan oleh Pemkot Surabaya untuk menggusur rumah-rumah yang katanya ilegal itu.

Di depan pompa bensin yang menjadi saksi bisu penggusuran tersebut, seorang lelaki setengah baya terduduk lesu di depan puing-puing rumahnya. Pria itu Sunardji, 57 tahun. Ia sudah menghabiskan waktunya selama 39 tahun di tepi kali itu. Banyak suka duka yang telah ia alami selama menjadi “warga ilegal” di sana.

Sebagai tukang kreasi dan modifikasi sepeda motor, Sunardji mampu menghidupi keluarganya yang telah diungsikan ke Malang. Dia mengaku, meski sudah “diusir”, jiwanya akan tetap berada di bantaran Kali Jagir sampai akhir hayat. Baginya, tidak ada tempat yang spesial di hatinya selain bantaran kali itu.

Sunardji masih ingat betul, di tahun 1970 ia meminjam uang Rp 25 ribu dari rentenir untuk memulai usaha. Dari laba yang tak tentu tersebut ia sisihkan Rp 5 ribu per bulan untuk membayar uang pinjaman. Dia juga rela membangun rumahnya di kawasan bantaran kali tersebut. Katanya, uang tersebut cukup untuk membeli dan membangun rumah di kampung halaman.

“Terus terang saya cinta mati dengan kampung ini,” katanya. “Meski raga saya terusir dari kampung ini, sampai mati pun saya tetap akan mencintai dan meletakkan stren Kali Jagir di lubuk hati yang paling dalam,” katanya sembari meratapi puing-puing rumahnya.

Selepas penggusuran, Sunardji belum memikirkan tempat tinggal barunya. Meski Pemkot Surabaya memberikan alternatif bagi warga bantaran kali untuk tinggal di rumah susun, menurut Sunardji itu hanya akal-akalan. Pembangunan Rumah Susun Wonorejo yang ditawarkan Pemkot belum selesai. Sedangkan Rumah Susun Penjaringan Sari, yang dijadikan tempat alternatif, juga tidak bisa ditempati karena sudah penuh.

Sunardji pun memilih tetap tinggal di bekas reruntuhan rumahnya, sembari menunggu kejelasan ganti rugi. Dia bertahan, meski, nantinya mendapatkan teror atau ancaman dari preman ataupun aparat, seperti saat menentang penggusuran tersebut.

Dia mengaku tidak takut berjuang sendiri untuk bertahan dan menunggu tanggung jawab Pemkot. “Banyak tetangga saya yang sudah ciut nyali saat berhadapan dengan ancaman dan teror fisik dari apara, pada saat penolakan penggusuran. Bagi saya, ini merupakan tantangan dan bukti kecintaan saya pada tempat tinggal yang sudah memberi saya banyak kenangan,” tandas Sunardji.

Sunardji bertutur, sekitar 8 tetangganya yang menolak penggusuran tersebut diintimidasi dan ditahan di Polsek Wonokromo. Mereka dibebaskan setelah mendapatkan jaminan dari Lembaga Bantuan Hukum Surabaya. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar